dalam ARTIKEL TAMU

Beberapa waktu lalu, MED-EL Indonesia sempat mewawancara kedua orang tua dari Emily, salah satu pengguna implan rumah siput MED-EL, yang memiliki kondisi common cavity. Simak informasinya di artikel ini Emily – Common Cavity dan Ekspektasinya dengan Implan Rumah Siput. Ternyata kasus common cavity ini, sangat menarik untuk dibahas lebih dalam, karena beberapa orang lainnya memiliki kondisi yang serupa namun seringkali ragu untuk memutuskan terapi apa yang sesuai untuk putra-putrinya.

Akhirnya MED-EL melakukan wawancara lanjutan dengan dr. Harim Priyono, Sp. THT-KL (K), guna mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang kondisi common cavity pada gangguan dengar anak, bagaimana terapi dan proses apa yang harus dilalalui ketika ingin menggunakan implant rumah siput? Benarkan akan lebih sulit menjalani bedah implant ketika anak memiliki kondisi common cavity, dan seberapa besar kemungkinan anak berhasil bisa mendengar setelahnya?

Apa yang dimaksud dengan Common Cavity pada anak dengan gangguan pendengaran?

Jadi yang dimaksud dengan common cavity ini adalah, sebuah kelainan struktur anatomi di telinga tengah, khususnya di bagian rumah siput dan juga sebagian dari alat keseimbangan. Normalnya struktur di bagian ini memiliki saluran-saluran kecil, yang terbagi-bagi. Tetapi, dalam kasus common cavity, saluran tersebut justru menjadi satu dan membentuk sebuah rongga.

Jadi, di dalam telinga yang biasanya terdapat saluran-saluran yang biasa kita skala timpani, skala vestibuli, nah dalam kasus ini saluran itu tidak ada. Saluran ini bahkan menjadi satu dengan sebagian alat keseimbangan, sehingga membentuk sebuah rongga yang berbentuk seperti bola.

Apakah penyebab dan faktor risiko dari common cavity?

Kalo faktor penyebabnya bisa dikatakan masih berhubungan dengan genetik. Tapi, hampir sebagian besar kasus tidak diketahui apa penyebabnya. Jadi, bisa jadi kemungkinan terdapat gangguan pada saat kehamilan, yang menyebabkan pembentukan saluran ini tidak terjadi.

Untuk saat ini apa saja terapi yang paling sesuai untuk masalah common cavity?

Sebenernya tidak ada istilah terapi khusus pada kondisi common cavity ini. Gangguan ini biasanya menyebabkan ketulian tipe sensorineural, jadi terapinya adalah terapi untuk gangguan dengar sensorineural , yang disebabkan karena kelainan bawaan. Artinya, tidak ada perbedaan dengan ketulian bawaan lainnya.

Apakah gangguan dengar karena kondisi common cavity ini dapat diatasi dengan alat bantu dengar?
Kalo pertanyaannya dengan alat bantu dengar, karena pada kasus ini tidak organ korti tidak terbentuk, bahkan sel rambut pun bisa dikatakan tidak ada, sehingga alat bantu dengar bukan menjadi pilihan solusi untuk kondisi ini. Juga, pada kasus ini umumnya derajad gangguan dengarnya adalah derajat yang sangat berat.

Seberapa efektif implan rumah siput bisa mengatasi masalah common cavity?

Pada rumah siput yang normal terdapat saluran yang mana pada bagian pangkal paling luar terkait dengan ketersesuaian untuk frekuensi tinggi, lalu semakin ke dalam dia akan terkait dengan ketersesuaian dengan frekuensi yang rendah. Pada rumah siput normal, kalua dipasangkan elektroda, maka stimulasi dari elektroda mulai dari elektroda basal sampai dengan apex akan menstimulasi rumah siput, sehingga memberikan sensasi suara, sesuai dengan tonotopiknya. Misalnya, elektroda basal akan menstimulasi area basal sehingga akan memberikan sensasi mendengar di frekuansi tinggi, dan pada bagian apex akan memberi sensasi pendengaran di frekuensi rendah.

Tetapi pada common cavity, tonotopik ini tidak ada. Hal ini dikarenakan salurannya bukan saluran yang memanjang dari luar ke dalam, tapi hanya berbentuk sebuah rongga yang seperti bola. Jadi, ujung-ujung syaraf yang biasanya tersusun secara tonotopik ini, pada kondisi common cavity tersebar secara acak di rongga tersebut.

Yang menjadi tantangan adalah implan rumah siput pada kasus common cavity, secara teori sulit mendapatkan stimulasi sesuai dengan tonotopik frekuensi pendengarannya. Jadi seandainya kita masukan kabel, belum tentu kabel yang paling jauh itu bisa bertemu dengan serabut syaraf frekuensi rendah, dan belum tentu yang paling pangkal atau luar akan bersentuhan dengan serabut syaraf yang melayani frekuensi tinggi.

Jadi, apakah saat ini belum bisa dipastikan seberapa besar kemungkinan anak-anak pengguna implan rumah siput yang memiliki kondisi common cavity ini bisa mendengar dan berkomunikasi?

Dari laporan-laporan yang ada di luar negeri menunjukan bahwa, pasien-pasien dengan kasus common cavity yang menggunakan implan rumah siput, jika ia menggunakan implan rumah siput sejak dini, maka ia bisa mencapai persepsi mendengar yang hampir sama dengan pengguna implan rumah siput, tanpa kondisi common cavity.

Kebetulan saya memiliki 4 pasien dengan kasus common cavity yang sudah dipasangkan implant rumah siput, dan salah satunya adalah pengguna medel. Saat ini dia sudah bisa mengerti percakapan dan juga bisa berbicara. Sepertinya ini bukan hanya menjadi masalah di common cavity nya saja. Tapi, secara umum, juga harus dilihat bagaimana proses habilitasinya dilakukan sedini mungkin dan konsisten.

Buktinya pasien saya yang menggunakan Medel ini, yang diimplan di usia yang sangat muda, dia bisa berhasil mencapai kata atau kalimat seperti yang diharapkan.

Kalau bisa disebut kan satu persatu dok, apa saja faktor sukses mendengar pada kasus common cavity?

Secara teori, ini hampir sama saja dengan kondisi tanpa common cavity. Yang pertama adalah usia saat anak menggunakan implan rumah siput. Semakin muda semakin baik hasil yang bisa dicapai. Hanya saja, saat ini tidak ada pemeriksaan yang bisa mengukur kualitas hantar dari serabut syaraf yang kita stimulasi. Kalau tidak ada masalah disana, atau gangguannya murni hanya tidak ada sel rambut yang mengubah suara menjadi sinyal listrik, secara teori jika menggunakan implan rumah siput, hasilnya akan baik.

Tetapi kita harus mengingat juga, gangguan pendengaran adalah kelumpuhan fungsi syaraf. Di saat syaraf mengalami kelumpuhan, maka untuk mengembalikan fungsi kelistrikan di syaraf tersebut, maka harus dilakukan terapi sedini mungkin. Tidak hanya gangguan pendengaran, bahkan pasien stroke pun jika tidak segera di rehabilitasi, maka gangguannya bisa berubah menjadi permanen. Dan, gangguan pendengaran ini sebenarnya bentuknya seperti kelumpuhan syaraf. Jadi faktor yang paling memiliki peran adalah terapi sedini mungkin.

Nah, pertanyaanya adalah seberapa sedini mungkin kan bisa dilakukan?

Ada publikasi atau laporan yang mengatakan, perkembangan sinap atau susunan syaraf pusat itu akan mencapai puncaknya pada usia anak 6 bulan, lalu kemudian akan mengalami penurunan. Maka, di atas satu tahun sebenarnya sudah cukup tua. Bahkan, saat ini di luar negeri sudah ada yang melakukan implantasi rumah siput di usia 6 bulan. Di Indonesia sendiri, kalua merujuk pengalaman pribadi saya, paling muda di usia 11 bulan.

Apakah ada perbedaan tindakan bedah pada anak-anak dengan kondisi umum dan anak anak dengan kondisi common cavity?

Untuk tindakan bedahnya sudah pasti berbeda.

Pada kasus yang umum, kita biasa memasang elektroda implan rumah siput ini langsung ke rumah siput, bisa melalui tingkap bundar atau kita membuat lubang, sehingga kita memiliki akses ke rumah siput atau ke skala timpani.

Tapi pada kondisi common cavity, ada teknis khusus dan juga ada elektroda khusus yang memang dirancang untuk common cavity. Pertama, kami harus memastikan semua elektroda menempel di dinding rongga dari common cavity. Yang kedua, pada kondisi common cavity ini, seringkali memiliki saluran yang terhubung langsung dengan saluran di bagian dalam yang disebut Kanalis Akustikus Internus. Jadi, pada kasus ini, teknik operasinya juga perlu diperhatikan, jangan sampai ujung elektrodanya bukan berada di dalam rongga, tapi masuk ke dalam saluran kanalis akustikus internus tersebut. Jadi ini memerlukan teknik operasi tersendiri.

Kalau pada common cavity ini, apakah ada tingkatan keparahannya? Misalnya ada yang ringan, sedang atau berat?

Yang ada derajat kelainannya adalah kelainan struktur anatomi telinga dalamnya. Misalnya, ada yang kita sebut incomplete partision dengan beberapa deraja keparahan, lalu ada common cavity, hipoplasi koklea, ada juga aplasia koklea. Tapi, untuk kondisi common cavity sendiri tidak ada tingkatannya. Jadi untuk kasus ini ini semua bisa dilakukan pemasangan implan rumah siput, selama masih ada rongga, terdapat saluran kanalis akustikus internus dan dari hasil MRI bisa terdeteksi yang namanya nervus koklearis di dalam saluran itu, maka pasien tersebut adalah kandidat untuk dipasangkan implan rumah siput.

Untuk di Indonesia sendiri berapa banyak pasien dengan kasus common cavity?

Belum ada laporan tentang hal ini. Mungkin justru teman-teman dari pengadaan implan rumah siput yang melakukan operasi implan bisa ikut membantu mendata. Tapi, sepertinya tidak banyak. Saya sendiri punya 4 pasien. Dan, ada yang sudah mencapai persepsi suara. Yang terakhir baru di operasi beberapa bulan yang lalu.

Nah, itulah sekilas tentang common cavity pada anak dengan gangguan dengar. Kesimpulannya, kondisi ini bisa diterapi dengan baik menggunakan implant rumah siput, dan untuk mencapai hasil yang optimal, maka sejak dini untuk mencapai harapan-harapan, seperi bisa mendengar dan berkomunikasi ke depannya.

Comments

Recent Posts