dalam KIAT DAN SARAN, Orang Tua

Membangun mental yang positif pada anak remaja yang memiliki gangguan dengar merupakan tugas penting orang tua. Apa saja yang harus dilakukan agar mental yang positif tersebut bisa terwujud?

Perubahan-perubahan yang terkait dengan tantangan memiliki anak dengan gangguan dengar akan terus terjadi seiring dengan perkembangan mereka. Ketika si kecil masih balita, tantangannya adalah di penerimaan orang tua, mencari terapi dan bagaimana mengenalkannya pada suara dan kata. Ketika si kecil beranjak menjadi anak-anak, tantangannya adalah bagaimana ia bisa berbahasa. Dan ketika beranjak remaja, tantangannya adalah bagaimana dengan bahasa tersebut ia bisa berkomunikasi.

Tak pernah berhenti tugas orang tua dalam membimbing perkembangan bahasa dan wicara anak. Di saat remaja, ada satu hal lagi yang menjadi fokus orang tua. Untuk remaja dengan gangguan dengar, mereka akan mengalami perubahan yang biasa terjadi di usia mereka. Remaja mulai mencari identitas diri mereka, sehingga mereka pun akan mulai sensitif pada banyak hal. Ada banyak hal problem yang mungkin terjadi, misalnya salah satu yang sangat sering terjadi adalah rasa karena ada perbedaan. Nah, dengan membangun mental positif pada mereka, anak remaja Anda akan mulai belajar untuk mengatasi tantangan ini.

Di bawah ini adalah strategi yang bisa membantu Anda, untuk memberikan dukungan pada anak remaja dengan gangguan dengar, dalam rangka membangun mental yang positif dalam diri mereka.

1) Bantu mereka untuk membangun identitas pribadi yang positif
Memiliki identitas diri yang positif sangat penting, karena akan mempengaruhi hubungan mereka dengan orang di sekitarnya. Tugas orang tua lah untuk mengarahkan anaknya dalam mengembangkan identitas diri, sehingga mereka bisa menyadari apa dan siapa mereka sebagai seorang individu.
Coba ingat apa saja prestasi atau hal-hal yang berkualitas, yang membuat anak remaja Anda menjadi unik, dan gambarkan hal tersebut pada mereka. Anda bisa menceritakan, bagaimana pengalaman positif dan negatif yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya, akan membentuk karakter orang itu di kemudian hari. Mereka pun akan mempelajarinya.

Jika anak remaja Anda merasa minder atau justru lebih banyak melihat ke kekurangan mereka, maka Anda harus bantu mereka mengenali kelebihan mereka. Perlahan, kepercayaan diri mereka akan mulai tumbuh, dan mereka akan mengerti bahwa setiap manusia tercipta karena ada kelebihan dan kekurangan, dan pengalaman hidup yang membuat mereka memiliki kepribadian yang lebih baik.

2) Bantulah mereka untuk memahami dan menerima gangguan dengar yang mereka miliki
Agar remaja dengan gangguan pendengaran dapat dengan sepenuhnya mengembangkan jati diri mereka, mereka perlu memahami gangguan dengar yang mereka alami. Tidak masalah jika Anda mulai bercerita mengapa mereka mengalami hal tersebut, dampak apa yang mungkin terjadi dalam hal berkomunikasi mereka dan sebagainya. Dengan membuat mereka mengetahui kondisi mereka lebih banyak, ini akan mempermudah proses penerimaan mereka pada diri mereka juga, sehingga mereka bisa dengan lebih terbuka menerima gangguan dengar sebagai bagian dari diri mereka. Hal ini adalah penting untuk membangung mental yang positif pada diri mereka.

Bukan hanya itu, mereka juga akan lebih mudah menjelaskan kepada orang sekitar mereka tentang gangguan dengar yang mereka alami, tanpa harus merasa minder dan menutupi, sehingga interaksi sosial mereka akan terbangun dengan lebih baik.

Oya, membekali anak untuk memiliki kemampuan dalam menjelaskan kondisi mereka ke orang lain sangatlah penting, karena mereka akan melakukan aktivitas di luar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang. Ingatlah, gangguan dengar mungkin akan membuat anak gangguan dengar Anda merasa berbeda, jadi cobalah untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan mereka dengan terbuka, dan berikan pengertian secara perlahan.

Satu lagi yang juga harus diingat, anak remaja Anda juga akan mengemban tanggung jawab yang lebih banyak, khususnya dalam mereka mengambil keputusan atau bertindak. Mulailah dengan mendukung mereka dalam mengatasi gangguan dengar yang mereka alami secara mandiri. Misalnya, biarkan anak remaja Anda mengunjungi Audiologis dan berkonsultasi langsung tanpa banyak intervensi dari orang tua. Dengan begitu ia akan lebih banyak lagi belajar hal-hal baru tentang gangguan dnegar yang mereka alami, seperti memahami hasil audiogram, memahami tipe gangguan dengar dan alat yang mereka gunakan.
Ketika remaja, tanggung jawab untuk merawat dan mengoperasikan alat yang mereka gunakan pun akan menjadi tanggung jawab mereka, seperti kapan mengganti baterai, mengatasi traubleshooting, dll. Support mereka untuk lebih aktif mencari tahu dari Audiologis tentang apapun yang mereka butuhkan, untuk membuat mereka lebih nyaman dalam mendengar. Berikan kesempatan kepada mereka untuk mengatasi permasalahannya sendiri.

3) Tingkatkan pemahaman mereka tentang cara bersikap dalam berkomunikasi
Untuk remaja, hubungan sosial yang positif dapat berdampak pada harga diri dan kemampuan mereka untuk menjaga hubungan. Kesalahpahaman dan hambatan dalam berkomunikasi dapat mempengaruhi anak remaja Anda dalam bersosialisasi. Karenanya, sangat bermanfaat bagi orang tua, guru, terapis tentang bagaimana mengelola sebuah komunikasi.

Anda bisa membantu anak Anda dengan banyak mencontohkan tentang sikap berkomunikasi yang baik saat berkomunikasi dengan mereka. Membaca buku tentang komunikasi juga bisa menjadi cara lain, untuk melatih anak Anda tentang sikap dalam berkomunikasi, agar mudah diterima secara sosial. Dengan memiliki sikap yang positif dalam berkomunikasi, baik anak Anda berkomunikasi dalam bahasa isyarat atau pun verbal, anak remaja Anda tetap akan lebih mudah masuk dan diterima di masyarakat.

4) Bantu mereka meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi
Hal ini juga penting dalam membangun mental yang positif pada anak remaja Anda. Melakukan aktivitas bersama dengan teman, akan membantu anak remaja Anda yang memiliki masalah pendengaran, untuk mengembangkan kemampuan sosial mereka, termasuk memeperluas wawasan mereka.
Berikan kesempatan kepada anak remaja Anda untuk memiliki waktu bermain yang cukup dengan teman-teman seusianya, di tengah jadwal belajar atau pun terapi yang telah Anda rancang sebelumnya. Anda juga bisa melibatkan anak Anda dalam aktivitas ekstrakulikuler yang mereka sukai seperti olahraga, atau sekadar mendampingi mereka untuk berjalan-jalan dengan teman seusianya, baik yang memiliki gangguan dnegar juga atau pun yang memiliki pendnegaran normal.

Jangan ragu untuk mengenalkan anak-anak Anda dengan sebuah komunitas tunarungu atau komunitas lainnya yang sesuai dengan hobi mereka, agar pergaulan mereka semakin lebih meluas. Komunitas ini bisa yang berada di lingkungan nyata atau di dunia maya. Tetapi tetap, dampingi mereka sampai benar-benar yakin anak Anda bisa menguasai sistem sosial yang mereka masuki.

5) Berbicara secara terbuka
Anak remaja biasanya cenderung berkesan gengsi untuk meminta atau menerima bantuan dari orang tuanya, guru atau orang dewasa lain yang mereka kenali. Hal ini bukan hanya untuk remaja gangguan dengar saja, tetapi juga remaja dengan pendengaran normal. Bahkan, mereka cenderung bersikap bahwa mereka mampu melakukan semuanya secara mandiri. Pada remaja dengan gangguan dengar, masalah pendnegaran ini berpeluang membuat mereka lebih ingin mengisolasi diri, dan melakukan semuanya tanpa meminta bantuan. Karena komunikasi orang-orang terdekat mereka sangatlah diperlukan.

Cobalah untuk selalu berkomunikasi dua arah dengan baik sehingga membuat mereka mau bicara terbuka tentang apa yang mereka rasakan dan bantuan apa yang mereka butuhkan. Mungkin pembicaraan itu harus dimulai dari Anda sendiri. Ajaklah mereka bercerita tentang hari-hari mereka, tanyakan apa kendala yang sering mereka temui di luar rumah, dsb. Dengan menjaga agak komunikasi terbuka tetap berjalan baik, anak remaja Anda akan merasa ada yang mendukung, menerima dan merawat mereka dengan baik, sekalipun mereka memiliki keterbatasan.

Nah, tiu dia 5 tips dalam membangun mental yang positif pada anak remaja Anda yang memiliki gangguan dengar. Aplikasikan tips ini dengan cara yang gembira, agar mereka semakin mudah menyerapnya.
Tulisan ini dibuat oleh Ingrid Steyns, a speech-language pathologist, konselor rehabilitasi dan manager rehabilitasi di Implan Rumah Siput MED-EL

References:
Albert, D., & Steinberg, L. (2011). Judgment and Decision Making in Adolescence. Journal of Research on Adolescence, 21(1), 211-224.
Casey, B. J., & Caudle, K. (2013). The Teenage Brain Self Control. Current Directions in Psychological Science, 22(2), 82-87.
Dahl, R. E. (2004). Adolescent Brain Development: A Period of Vulnerabilities and Opportunities. Keynote address. Annals of the New York Academy of Sciences, 1021(1), 1-22.
Duarte, I., Santos, C. C., Rego, G., & Nunes, R. (2014). Health-related Quality of Life in Children and Adolescents with Cochlear Implants: self and proxy reports. Acta oto-laryngologica, 134(9), 881-889.
Warner-Czyz, A. D., Loy, B. A., Evans, C., Wetsel, A., & Tobey, E. A. (2015). Self-esteem in Children and Adolescents with Hearing Loss. Trends in hearing, 19, 2331216515572615.
Warner-Czyz, A. D., Loy, B., Tobey, E. A., Nakonezny, P., & Roland, P. S. (2011). Health-related Quality of Life in Children and Adolescents Who Use Cochlear Implants. International journal of pediatric otorhinolaryngology, 75(1), 95-105.

Comments

Artikel Rekomendasi