dalam TEKNOLOGI

Terapi ANSD atau Auditori Neuropati Spectrum Disorder masih terus menjadi pertimbangan. Implan rumah siput mencoba untuk memberikan solusi untuk masalah ini. Namun, apakah ini akan memberikan hasil yang positif?

Sebelum kita membaca artikel yang sedikit ilmiah ini, kami dari MED-EL Indonesia inging mengucapkan Selamat Hari Implan Rumah Siput Sedunia Tahun 2017.

Ada banyak alasan mengapa akhirnya kami memilih artikel ini, yang diangkatkan di hari implan rumah siput sedunia. Yang pertama, karena masalah pendengaran Auditori Neuropati Spectrum Disorder (ANSD) atau di Indonesia biasa disebut sebagai neuropati auditori, dan selanjutnya kita akan menyebutnya dengan ANSD, merupakan salah satu masalah pendengaran yang luput dari perhatian banyak orang. Padahal bisa jadi penderitanya sangatlah banyak. Yang kedua, karena beberepa peneliti akhirnya menyepakati bahwa implan rumah siput adalah bagian yang cukup dipertimbangkan dalam terapi ANSD ini. Karenanya, kita tidak hanya berbicara tentang gangguan dengar sensorineural saja ke depannya, tetapi juga tentang ANSD ini.

Ketika Penelitian Terapi ANSD dengan Implan Rumah Siput Mulai Dikembangkan

Pada tahun 2008, Audiologis, Ilmuwan yang fokus pada masalah pendengaran, Ahli Genetika, Ahli Neonatologi dan Ahli Syaraf berkumpul bersama di Como, Italia. Pada saat itu mereka melakukan konferensi, yang mengangkat tema tentang “Pedoman dan Pengembangan dalam Mengidentifikasi dan Mengelola Anak dengan Auditori Neuropaty Spectrum Disorder (ANSD).”

Ada segudang masalah yang dibahas dalam konferensi ini, dan tujuan utamanya adalah untuk mencari solusi dari segudang masalah tersebut. ANSD adalah sebuah masalah pendegaran, yang ditandai dengan adanya fungsi sel rambut luar yang normal atau terkombinasi dengan gangguan, atau kondisi ketiadaannya konduksi sinyal yang tersinkronisasi dengan saraf pendengaran. Anak-anak dengan ANSD, biasanya memiliki kesulitan dalam memahami percakapan, dan membedakan satu suara dengan suara yang lainnya, dibandingkan dengan anak-anak lain dengan masalah gangguan pendengaran sensorineural,tanpa auditori neuropati. Adapun, satu titik temu dalam konfrensi 2008 tersebut adalah, menghasilkan sebuah konsensus untuk mengubah terminologi tentang definisi juga terapi yang saat ini digunakanpada jenis gangguan dengar ANSD.

Terdapat bahasan lain yang juga menarik yaitu, bahwasannya penggunaan implan rumah siput dianggap sebagai salah satu terapi yang cukup direkomendasikan sebagai pilihan terapi ANSD, khusunya bagi mereka yang hanya memiliki sedikit sekali perkembangan dalam bahasa, pemahaman dan bicara saat menggunakan alat bantu dengar. Sebenarnya, hasil konsensus ini menjadi salah satu pembahasan utama, karena sejak awal-awal tahun pertama kali ANSD diidentifikasi, gangguan ini diklarifikasi dan diklasifikasikan sebagai gangguan syaraf. (Sininger, Hood, Starr, Berlin, & Picton, 1995; Starr, Picton, Sininger, Hood, & Berlin, 1996).

Pada saat itu, tidak ada yang berpikir bahwa implan rumah siput merupakan salah satu solusi terapi ANSD yang layak dipertimbangkan. Barulah di tahun 2007, the Joint Committee on Infant Hearing , membuat sebuah pernyataan bahwa implan rumah siput dapat dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, sebagai terapi ANSD, pada anak dengan masalah pendengaran, yang tidak mendapatkan banyak manfaat, atau hanya mendapatkan manfaat yang terbatas, dari alat bantu dengar.

Ada sebuah dasar yang cukup masuk logika, mengapa pada awalnya implan rumah siput tidak termasuk dalam salah satu pilihan terapi ANSD, yaitu dikarenakan gangguan ini diklasifikasikan sebagai degeneratif persyarafan. Menurut patologinya, gangguan ini terjadi karena ketidaksinkronan rangsangan listrik yang berada di seluruh syaraf. Misalnya, ketika ada satu lesi di bagian akson, maka setidaknya akan ada kemungkinan satu blok saraf-saraf parsial akan mengalami kondisi yang buruk. Jika masalahnya terpusat pada ganglion spiral, maka syaraf-syaraf pendengaran pun menjadi tidak optimal bekerja. (Starr, Picton, & Kim, 2001). Bahkan, jika pun muncul asumsi bahwa lesi ini memiliki keterkaitan dengan saraf pendengaran, masih ada alasan yang harus dibentuk untuk mempertimbangkan implan rumah siput sebagai terapi intervensi yang efektif pada terapi ANSD.

Zhou, Abbas, dan Assouline (1995), seperti dikutip dalam situs American Speech Language Hearing Association, menunjukkan bahwa stimulasi listrik saraf pada tikus mengakibatkan respon yang gelombangnya terukur dengan uji auditory brainstem response (ABR). Hal ini menunjukkan bahwa, jika serat yang membangun saraf dirangsang secara elektrik, akan muncul bangkitan syaraf yang maksimum, dan bangkitan yang besar ini ini hanya dapat dicapai dengan rangsangan listrik, daripada ketika hanya menggunakan rangsangan saraf akustik. Selain itu, waktu respon saraf pada rangsangan listrik tampak lebih tepat dan daripada rangsangan akustik.

Jika diamati histogramnya, makan periode respon saraf akan menunjukan lonjakan aksi yang lebih sering di sekitar puncak kurva (fase) saat dilakukan rangsangan listrik. Dimana, jika dilihat dalam histogram akan nampak adanya penyebaran rangsangan lebih meluas di sepanjang kurva. (Abbas, 1993).
Saran ini juga mejelaskan bahwa, metoda diskrit bifase yang digunakan di sebagian besar strategi dalam membangun rangsangan, pada penggunaan implan rumah siput, memang dapat membantu meningkatkan sinkronisasi, pada saat dilakukan rangsangan pada saraf pendengaran (Rance, 2005). Dan, pada akhirnya, ada juga fakta yang tidak boleh diabaikan yaitu, pada pasien gangguan dengar sensorineural, yang mana juga terdapat kerusakan saraf pendengaran, terapi implan rumah siput pun sangat memberikan hasil. Bahkan, dengan implan rumah siput diharapkan pasien mendapatkan keuntungan yang lebih bermakna dibandingkan dari alat bantu dengar (Spoendlin & Schrott, 1989).

(lanjut halaman 2)

Comments

Artikel Rekomendasi