dalam KIAT DAN SARAN

Ketika anak Anda baru pertama kali menggunakan implan rumah siput, atau alat bantu mendengar lainnya, maka itulah pertama kalinya ia akan melangkah untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan berbahasanya. Pada saat ini, sangat bisa saja anak merasa frustasi ataupun kaget dengan perubahan yang ada, dimana ia harus mulai belajar hal-hal baru dan belajar untuk berkomunikasi.

Ia pun akan mulai masuk ke lingkungan yang tidak sama dengan sebelumnya, dimana banyak orang mulai mengajaknya berkomunikasi. Kadang, banyaknya orang yang berupaya mengajaknya berkomunikasi membuat anak merasa frustasi. Kadang, ketika ia mulai bisa mendengar banyak suara dan hal-hal lain di lingkungannya, maka ia juga akan mulai merasa frustasi jika hal-hal yang didengarnya tersebut ada yang membuatnya merasa kecewa, dsb. Bahkan, harapan-harapan yang dipupuk sebelum menggunakan alat pun akan menambah tekanan pada dirinya.

Sebagai orang tua, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu anak Anda melalui masa-masa yang mungkin akan membuatnya frustasi atau bahkan adakalanya merasa kecewa ini.

Mencari Tahu Penyebab Frustasi

Menangis, marah, tidak mau menggunakan alat, menjauhi lingkungan sosial, bersikap seolah tidak peduli dan tidak koorperatif dalam mengikuti perintah, adalah beberapa tanda bahwa anak merasa frustasi dengan sebuah situasi. Alasan anak merasa frustasi sangatlah banyak, salah satunya, mungkin karena mereka belum bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan perubahan tersebut. Beberapa anak merasa frustasi karena masih kesulitan menangkap pesan apa yang ingin orang lain sampaikan, ketika berbicara dengan mereka.

Bantulah Anda Anda Keluar dari Rasa Frustasi

Bicara dengan Jelas, dengan bahasa yang sesuai usia mendengar mereka

Kebanyakan anak merasa frustasi karena mereka tidak paham dengan bahasa yang keluar dari mulut Anda atau orang lain di sekitarnya, yang baru saja bisa ia dengarkan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan tetap berupaya mengatakan sesuatu dengan bahasa yang mudah dipahami, ditambah dengan beragam gesture yang membantu dalam penyampaian kata-kata.

Sekalipun ia telah menggunakan implan rumah siput atau alat bantu mendengar lainnya, namun mereka masih harus memulai dengan kata-kata pendek yang sederhana, yang langsung mengarah pada apa yang terjadi. Karenanya, pada tahap awal, perbanyaklah menggunakan kata-kata yang sebelumnya juga telah sering mereka dengarkan.

Misalnya, jika sebelumnya dia sudah mengerti arti kata “dadah”, ketika ia telah menggunakan implan rumah siput, Anda tidak lantas mengganti kata ini dengan yang lebih komplek seperti “Saatnya kita berpisah disini, sampai jumpa nanti!”. Sebaiknya Anda tetap memasukan kata “dadah” ini dalam frasa lain yang sudah dimodifikasi, tapi tetap sederhana. Misalnya, ketika mereka bermain mobil-mobilan, Anda bisa mengatakan “waktunya kami pulang ke rumah, dadah!” sambil mendorong mobil ke arah rumah.

Tunjukan pada Mereka Bahwa Anda Memahami Mereka

Jika Anda melihat anak Anda mengalami frustasi dalam memahami kalimat atau kata baru, tunjukan pada mereka bahwa Anda memahami perasaan mereka. Bantulah mereka untuk juga memahami perasaan mereka sendiri. Misalnya, ketika Anda melihat anak Anda kesulitan mengungkapkan sesuatu di arena permainan yang membutuhkan antrian, namun ia tidak memahami apa arti kata “mengantri” tersebut, sehingga jika Anda menyebutkan “Kita harus mengantri, baru boleh bermain” mungkin ia makin frustasi karena tak paham, akibatnya ia bisa kecewa, marah atau bahkan tantrum di arena bermain tersebut. Anda bisa menyampaikan perihal mengantri ini dengan bahasa lain yang sederhana, misalnya “Kita baru boleh bermain setelah Sarah, begitu aturannya. Sabar ya!” Sambil menunjuk ke Sarah.

Amati Terus Situasi-Situasi yang Sering Membuat Frustasi

Perhatikan perilaku anak di keseharian mereka, dan lihatlah situasi apa saja yang membuat ia akan merasa frustasi secara konsisten. Lalu, kenali situasi tersebut dan cari solusi untuk keluar dari masalah tersebut.

Lakukan sebuah aktivitas dengan situasi yang sama berulang-ulang, dan cobalah membantu mencari jalan keluar dari setiap situasi itu, dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin cara pertama akan membuat Anak Anda semakin frustasi dengan situasi yang ia hadapi, tapi bisa jadi dengan cara yang lain, anak Anda seolah menemukan solusi dari apa saja yang membuat ia selama ini tertekan, sehingga mampu melewati kesulitan tersebut.

Dengan mempraktekan permainan seperti ini berulang kali, hal ini akan membangkitkan pengetahuannya, dan berharap dia akan bisa menerapkan ilmunya, dan mulai terbiasa dengan situasi dimana ia sebelumnya selalu merasa frustasi jika berada di dalamnya.

Membuat Buku Catatan Pengalaman, Mencegah Anak Merasakan Frustasi yang Berulang Kali

Kami pernah menuliskan sebelumnya tentang Buku catatan pengalaman bisa membantu anak Anda untuk mengembangkan kemampuan yang ia telah miliki sebelumnya. Dengan membuat sebuah buku berisi catatan pengalamannya, termasuk pengalaman dan situasi apa saja yang membuatnya sering merasa kecewa atau frustasi saat harus berkomunikasi, maka Anda telah membantu anak Anda untuk memahami apa yang terjadi, dan mengerti mengapa ia selama ini mengalami frustasi.

Misalnya, ketika Anda mengetahui bahwa anak Anda merasa frustasi atau kecewa pada teman-teman sekelasnya, namun ia sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Maka, bantulah ia untuk membuatkan buku catatan pengalaman, dan buatlah gambaran cerita dengan menggunakan objek adalah teman-temannya tersebut. Tempatkan kata-kata sederhana dan tepat untuk melukiskan karakter teman-temannya, sehingga ia pun belajar untuk memahami perasaan teman-temannya saat berkomunikasi dengannya juga. Dan, sekaligus ia menambah kosakata baru.

Konsisten

Cara terbaik lainnya untuk membuat anak Anda memahami apa yang Anda harapkan dari dirinya, tanpa perlu membuat anak merasa frustasi dengan penyampaian Anda adalah, dengan melakukan rutinitas dan menerapkan aturan yang konsisten.

Biarkan anak Anda mengetahui perilaku apa saja yang dibolehkan dan tidak diperbolehkan, lalu sebutkan apa alasannya secara verbal. Misalnya, saat Anda melihat anak Anda mendorong adiknya, katakan dengan sederhana, “Jangan! Kalau kakak mendorong adik, nanti adik jatuh!” Atau, ketika anak Anda melakukan hal yang baik, maka berikanlah pujian. Misalnya ketika ia selesai mengerjakan tugas sekolahnya dengan baik, katakan “Bagus! Kalau rajin kakak akan pintar!” Ulangi terus model berbicara seperti ini, yaitu dengan menggunakan penggalan sederhana dan disertai dengan alasan yang dikemas dengan bahasa sederhana juga.

Saatnya Membantu Anak Anda Mengembangkan Kemampuan dalam Bersosialisasi

Ketika anak Anda mulai terbiasa berkomunikasi dengan alat implan rumah siput atau alat bantu mendengar lainnya, bantu mereka memperkaya kosakatanya dengan kata-kata yang bermakna atau pun frasa yang umum. Gunakan frasa yang umum berulang kali, ketika hal itu dianggap sesuai dengan kondisi tertentu. Contoh frasa yang umum “Terima kasih”, “Bisa diulang?”, “Mau bermain bersama?”, “Nama Saya Sari”, dan sebagainya.

Dengan terus mengulang frasa yang sama di berbagai macam situasi yang sesuai, Anda telah membantu anak Anda untuk menerapkan frasa ini di berbagai situasi yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dan, ini sangat dibutuhkan agar mereka lebih mudah mengembangkan kemampuan mereka dalam bersosialisasi, tanpa harus ada drama merasa frustasi dengan situasi tersebut.

Artikel ini ditulis oleh Ingrid Steyns, a rehabilitation specialist at MED-EL.

Bagikan artikel ini dengan orang tua lainnya yang juga memiliki anak dengan gangguan dengar.

Referensi

Edwards, L., Khan, S., Broxholme, C., Langdon, D. (2006). Exploration of the cognitive and behavioural consequences of paediatric cochlear implantation. Cochlear Implants Int., 7(2), p. 61-76
Wiefferink, C.H., Rieffe, C., Ketelaar, L., Frijns, J.H. (2012). Predicting social functioning in children with a cochlear implant and in normal-hearing children: The role of emotion regulation. Int J Pediatr Otorhinolaryngol.

Comments

Artikel Rekomendasi