dalam ARTIKEL TAMU

Saat bertemu dengan Ibu Yani dan putri cantiknya, Emma, saya merasa sangat beruntung. Beruntung karena bisa berkenalan dengan gadis kecil, yang di telinganya disematkan implan rumah siput MED-EL. Gadis kecil yang sangat cerdas. Emma begitu ceria, dia menyapa MED-EL dengan ramah, sesekali dia juga membalas candaan kami kepadanya. Sedangkan Ibu Yani terlihat bersemangat dan sangat menginspirasi, saat menceritakan bagaimana perkembangan Emma saat ini.

Ibu Yani dan Emma adalah satu dari sekian banyak pengguna implan rumah siput MED-EL, dan mereka telah membuktikan bahwa, ada banyak harapan yang bisa digapai, ketika orang tua dan anak saling bekerjasama dengan baik, untuk mencapai harapan-harapan tersebut. Terlihat hasilnya, Emma mampu berbicara sangat jelas, di usianya yang baru 5 tahun. Komunikasi dua arah Emma pun sangat baik. Tidak hanya itu, Emma pun memiliki kemampuan akademis yang tidak kalah dengan anak-anak dengan pendengaran normal.
Mari berkenalan dengan Emma dan Ibu Yani, dan simak bagaimana Ibunda dari Emma, bisa membuat Emma memiliki perkembangan bahasa yang sangat baik saat ini.

Di usia berapa Anda menyadari bahwa Emma memiliki gangguan pendengaran, dan bagaimana Anda menyikapi hal tersebut?

Sebenarnya, semenjak saya hamil Emma, saya sudah mengetahui adanya risiko gangguan pendengaran pada Emma, karena saya memang terpapar virus Rubella. Waktu itu, saya dan suami melakukan beragam pemeriksaan untuk mengetahui bagaimana kondisi Emma. Dari berbagai skrining, Emma dinyatakan tidak mengalami masalah pada jantung, mata dan tidak mengalami syndrom lainnya. Hanya saja, untuk gangguan pendengaran hal tersebut tidak bisa terdeteksi saat hamil. Jadi, risiko gangguan dengar tersebut tetaplah ada.

Ketika Emma lahir, kami pun memutuskan untuk take a break. Kami tidak mencari tahu apapun tentang kondisi Emma. Kami hanya berpikir untuk menikmati kehadiran Emma saat itu. Di usia 8 bulan, baru Kami memeriksakan kondisi pendengaran Emma. Dan, saat itu Kami diberitahukan jika ya, Emma memang refer dari hasil OAE nya. Di usia 1 tahun, baru Kami melakukan pemeriksaan lengkap. Emma lantas didiagnosa mengalami gangguan dengar sangat berat.

“Dibilang kaget enggak, sedih pasti iya. Tapi untungnya kami cukup gesit dan tidak terlena dengan kesedihan.”

Saat itu, yang cukup kami sesali adalah, karena kami kurang menggali lebih jauh tentang implan rumah siput. Yang ada di pikiran kami hanyalah, risiko implan ini besar, karena anak harus menjalani bedah pada kepala. Pada akhirnya kami pun memilih menggunakan alat bantu dengar, untuk membantu Emma mendengar, dan ditambah dengan stem cell sekitar 6 sampai 7 kali pertemuan. Emma mengunakan ABD sekitar 8 bulan, namun, memang saat itu kami belum menemukan hasil yang memuaskan.

Bagaimana awal mula Anda memutuskan bahwa Emma membutuhkan implan rumah siput?

Emma dan implan rumah siput 2

Nah, ini adalah satu kesalahan yang saya dan suami lakukan, dimana kami tidak mengeksplore sebelumnya tentang segala sesuatu mengenai implan rumah siput.

“Kekhawatiran kami saat itu adalah, karena untuk menggunakan implan rumah siput, Emma harus menjalani bedah di kepala. Sehingga kami tidak langsung mengambil keputusan ini.”

Sedangkan dengan terapi yang kami lakukan saat itu, kami belum bisa mendapatkan hasil yang memuaskan pada Emma. Sebenarnya kami cukup menyesali kenapa waktu di awal kami tidak menggali informasi dengan lebih detail dan cermat. Kami merasa belum mendapatkan informasi yang mendalam, bahwa anak dengan gangguan pendengaran berat itu sebaiknya menggunakan implan. Dan pada saat itu, entah kenapa sulit buat kami untuk mendapatkan teman berbagi cerita .

Belajar dari saat kami membeli alat bantu dengar yang tanpa melakukan banyak riset, kami pun mulai lebih detail mencari informasi tentang implan rumah siput. Ternyata di luar negeri sana, terutama di Amerika dan Australia, ada banyak sekali informasi tentang implan rumah siput, beserta video-video anak yang sukses dapat berbicara dengan verbal dengan level pengucapan yang mendekati anak anak tanpa ganguan pendengaran. Dari situlah kami memutuskan untuk Emma menggunakan implan rumah siput. Kami berharap alat ini bisa mewujudkan ekspektasi kami.

Emma saat ini menggunakan Synchrony, kami memilihnya karena saat itu, Synchrony adalah teknologi terbaru. Sedangkan Audio Prosesornya kami menggunakan Opus2.

Apa harapan yang Anda bangun, setelah Emma menggunakan implan rumah siput?Habilitasi apa saja yang diikutkan oleh Emma, dalam rangka membantunya mendengar lebih baik, bisa berbahasa dan berkomunikasi kelak?


Emma mengikuti terapi mendengar di Yayasan Rumah Siput Indonesia selama 2 tahun. Satu yang penting dari terapi ini adalah, orang tua harus berperan aktif dalam terapi anak. Orang tua dan Terapis ini adalah partner, sehingga baik terapis dan orang tua sama-sama harus berjalan beriringan. Itu juga yang saya lakukan.

Saya termasuk orang tua yang detail dalam meminta informasi tentang terapi anak pada terapisnya. Terkadang, saya mengambil waktu terapi anak, hanya untuk berdiskusi dengan terapisnya, tentang harapan-harapan saya, mengetahui metode yang digunakan, dan bagaimana perkembangan bahasa anak saat itu.

“Saya berharap habilitasi ini membuat Emma bisa bicara dengan jelas dan dimengerti, bukan sekadar bisa bicara saja.”

Selain pernah mengikuti terapi AVT, saya juga pernah mengikutkan Emma ke sebuah Learning Center selama 1 tahun, dimana di sana anak-anak pengguna implan dibagi menjadi kelompok-kelompok. Saya pikir kelas kelompok yang kecil dan terfokus untuk anak pengguna implan rumah siput adalah hal yang sangat bagus. Jadi anak-anak bisa meningkatkan kemampuan sosialisasi dan juga mendapatkan pengawasan yang baik dari guru guru yang mampu menangani anak implan. progress Emma di Learning Center ini pun cukup baik.

Bagaimana cara Anda menanamkan kepercayaan diri pada Emma di sela-sela keterbatasannya?

Di 1 tahun pertama setelah menggunakan implant rumah siput, saya pernah membawa Emma ke psikolog dengan tujuan mengetahui apakah Emma memiliki gangguan kesehatan penyerta lainnya. Selain itu, saya juga bertanya bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan sosialisasinya.

Psikolog memberikan saran agar Emma bisa bermain dengan teman-teman sebayanya secara langsung. Karenanya saya mengikutkan Emma ke sebuah kelompok bermain (playgroup)

Tapi setelah setahun di playgroup, ternyata, Emma justru terlihat semakin tidak percaya diri. Memang dari sisi kemandirian Emma ada peningkatan, tapi sisi bahasanya dan sosial tidak kelihatan perkembangan ke arah yang semakin baik. Akhirnya kepala sekolah playgroup tersebut memberikan analisa yang kami rasa ada benarnya. Tidak terlihat perkembangan, kemungkinan disebabkan karena kemampuan berbahasa Emma, dimana teman-teman Emma belum bisa memahami keterbatasan tersebut dan Emma kesusahan mengerti intruksi atau percakapan guru-guru. Sehingga akhirnya membuat Emma menjadi menarik diri dari teman temannya. Akhirnya, kami memutuskan untuk menghentikan Emma dari sekolah tersebut, dan fokus mengajar Emma mengembangkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasinya.

Dan, memang benar, saat kemampuan komunikasi Emma membaik, Ia pun menjadi lebih percaya diri.

Selain itu, saya juga berupaya membuat Emma lebih mandiri dengan mengembangkan kemampuan akademisnya. Jika dia memiliki perkembangan yang baik di akademisnya, maka kemudian, kepercayaan dirinya pun akan terbangun. Tapi, untuk mencapai itu pun, saya tidak terlalu memaksakan Emma secara berlebihan, semua dikonsep dengan cara menyenangkan dan bertahap.

Apa saja aktivitas non akademis yang Anda tambahkan kepada Emma saat ini?

Sejauh ini saya belum libatkan Emma di kegiatan non akademis. Saya masih fokus membangun kemampuan berbahasa dan berkomunikasi Emma. Tapi, mungkin nanti saya akan mengikutkan Emma ke aktivitas non akademik yang sesuai. Saya juga ingin Emma mengingat masa kecilnya sebagai masa yang menyenangkan, masa untuk bermain. Kalau pun belajar dilakukan dengan menyenangkan.

“Saya juga membiasakan Emma membaca buku sejak dini, untuk membuat ia bisa berimajinasi dengan baik.”

Sepertinya Emma Lebih Banyak Menghabiskan masa Habilitasi dengan Ibunya, apa saja yang Anda lakukan pada Emma?

Ya, karena jadwal AVT kan Cuma 60 menit dalam seminggu, dan anak akan lebih banyak bersama orang tuanya di rumah. Pada awal-awal AVT, hampir semua bentuk mainan yang tersedia di tempat AVT akan saya beli, dengan maksud bisa saya terapkan di rumah. Pada kenyataannya, tidak semua mainan-mainan itu bisa saya terapkan di rumah. Sehingga saya berusaha mencari tau konsep/teori/garis merah yang mendasari kegiatan AVT di tempat habilitasi itu. Kemudian, saya memodifikasi permainan disesuaikan dengan minat Emma.

Akhirnya saya banyak browsing lagi untuk menggali informasi. Saya mulai memahami karakter belajar Emma. Untuk gambar-gambar yang wujudnya tidak seperti bentuk aslinya, hal itu akan sulit diterima oleh Emma. Emma lebih cepat menangkapn informasi dari mainan atau gambar yang bentuknya lebih real/mirip asli. Saya pun mulai membuat kartu bergambar saya sendiri di rumah untuk Emma pelajari. Selain itu juga Emma saya ajak langsung ke ragunan untuk menunjukan Emma bentuk asli binatang atau ke pasar/supermarket untuk lihat sayuran dan buah buahan.Metode ini lebih mudah diterima oleh Emma. Emma juga suka bernyayi, bahkan Emma bisa bernyanyi topi saya bundar di usia dengar 5 bulan.

“Nah, jadi penting sekali bagi orang tua mengenal karakter belajar anak, untuk menemukan metode yang tepat dalam mengajarkan anak. Karena cara belajar Emma belom tentu sama dengan cara belajar anak yang lain.”

Apa saja kemajuan yang telah di dapatkan Emma setelah menjalani habilitasi?

Saat ini kemampuan berbahasa dan berkomunikasi Emma sudah jauh sekali perkembangannya. Untuk perkembangan logika berpikir juga sudah cukup baik untuk umur 5 tahun, dan masih terus diasah. Di sekolah, Emma mendapat nilai harian yang baik. Emma dinilai dengan standar yang sama dengan anak-anak tanpa gangguan pendengaran.

Sekolah tidak perlu menurunkan ekspektasinya pada Emma, Kemampuan Emma sama dengan teman lainnya yang tidak mengalami gangguan dengar.

Bagaimana Anda menyikapi keterbatasan yang dimiliki Emma, agar Emma bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya?
Sejak awal, saya tidak pernah menutupi kekurangan Emma, dan Emma pun mengerti kondisinya. Saya tidak pernah menutupi implan rumah siput Emma dengan rambut, atau sengaja memakaikan jilbab agar alat tersembunyi. Saya ingin Emma bangga juga menggunakannya.

Pernah Emma bertanya apakah ia akan menggunakan alat implan rumah siput sampai besar nanti, saya cukup sulit menjelaskan saat itu. Saya coba menganalogikan dengan pengguna kacamata, tapi ternyata Emma lebih pintar, karena ia tahu saat ini ada lasik yang bisa menyembuhkan mata minus.

Saya hanya meminta Emma berdoa agar kelak para ilmuan bisa menemukan cara untuk mengatasi masalah pendengaran suatu saat nanti, hingga tidak perlu lagi menggunakan alat.

Apa tantangan terbesar atau terberat Anda selama mengasuh anak dengan gangguan pendengaran, dan bagaimana Anda menyikapinya?

Mencari sekolah, ini sangat sulit sekali. Emma bahkan pernah ditolak di sekolah–sekolah yang saya inginkan Emma bergabung di dalamnya. Emma ditolak di beberapa sekolah tanpa observasi, ini membuat saya sangat kecewa.

Sekolah menyatakan bahwa mereka belum memiliki sumber daya manusia yang bisa mendampingi Emma. Bahkan, mereka pun tidak mencari tahu terlebih dahulu tantang implan rumah siput. Karena sulitnya mencari sekolah itulah, pada akhirnya saya memilih memasukan Emma ke sebuah Learning Center khusus untuk anak gangguan pendengaran saat itu.

Adakah pesan Anda kepada setiap keluarga yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran, baik yang belum menggunakan implan rumah siput dan yang sudah menggunakan implan rumah siput?

  • Riset. Cari sebanyak mungkin informasi sebelum Anda memutuskan akan menggunakan alat apa? Cari informasi yang dapat dipercaya. Cari informasi juga, terapi apa yang sesuai untuk anak Anda dan bagaimana cara kerja terapinya. Jangan sampai, karena tidak mendapatkan informasi yang tepat, kita justru lebih banyak mengeluarkan biaya dan lebih banyak kehilangan waktu, padahal anak kita terus berkembang. Tidak hanya alat, lakukan juga riset tentang apa yang dilakukan setelah menggunakan implan rumah siput.
  • Orang tua dan terapis anak itu partner, jadi harus saling mendukung satu sama lain, bisa saling memberikan masukan, membantu juga perkembangan anak di rumah. Jangan sungkan untuk mengajak terapis anak diskusi tentang apa kemajuan anak atau pun apa yang terlihat stagnan.
  • Jangan terburu-buru memasukan anak sekolah, hanya karena ingin mengejar sosial anak. Tapi, fokuslah dulu dengan perkembangan bahasa anak. Ketika anak bisa berbahasa dengan baik, maka perkembangan sosialnya pun akan meningkat sendirinya. Sekolah akan selalu ada.
  • Tidak semua apa yang diterapkan oleh terapis di hearing center bisa diterapkan juga di rumah, orang tua perlu paham bagaimana karakter belajar anak, baru kemudia memilih metode yang tepat untuk cara belajarnya.
  • Alat bantu seperti implan rumah siput ini hanyalah alat yang membantu anak mendengar, namun yang menentukan keberhasilan anak sampai ia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan baik tetaplah habilitasinya. Jadi pastikan orang tua mensupport dengan baik habilitasi anak, utamanya 3 tahun pertama setelah anak menggunakan implan rumah siput.

Nah, bagaimana inspirasi dari Ibu Yani, semoga bisa menambah semangat dalam melakukan habilitasi untuk si kecil, ya! Untuk informasi lain, Emma juga memiliki instagram sendiri loh. Di sana Ayah Bunda bisa melihat bagaimana perkembangan bahasa, komunikasi dan perkembangan kognitif Emma. Follow instagram Emma di @emma_and_her_world.

Ingin tahu cerita pengguna implan rumah siput lainnya, ada Samuel yang juga merasakan manfaat implan rumah siput MED-EL di artikel “Ketika Samuel Mendengar Suara dengan Implan Rumah Siput MED-EL”

Comments

Artikel Rekomendasi