dalam KIAT DAN SARAN

Meningitis, penyakit ini berisiko menyebabkan kematian pada penderitanya. Dan, apabila pun bisa disembukan, biasanya meninggalkan gejala sisa. Ya, meningitis dapat menyebabkan gangguan dengar, sebagai bentuk gejala sisa dari peradangan tersebut.

Meningitis merupakan peradangan pada meninges, yaitu lapisan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Setiap manusia memiliki meninges, untuk membantu dalam melindungi sistem persyarafannya. Tapi sayangnya, terkadang meninges ini justru bisa menyebabkan hal yang sebaliknya, yaitu menyebabkan peradangan dan merusak sistem syaraf manusia tersebut.

Meningitis dapat terjadi, baik pada anak-anak atau pun orang dewasa. Dan, saat ini penyakit meningitis terbilang cukup sering terdengar. Pada anak-anak yang mengalami meningitis, maka mereka juga memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan dengar. Untuk seberapa besar risiko yang ditimbulkan oleh meningitis terhadap kerusakan pendengaran, hal ini tergantung pada banyak hal. Namun, sebuah penelitian menyebutkan bahwa, risiko tersebut bisa berkisar dari 3.5% – 37.2%.

Mekanisme Menginitis Dapat Menyebabkan Gangguan Dengar

Dalam prosesnya, meningitis dapat menyebabkan gangguan dengar karena peradangan ini menyebabkan masalah pada bagian penting di telinga. Peradangan bisa merusak koklea, yang merupakan organ kecil yang bertanggung jawab dalam mengirimkan sinyal suara ke otak. Ketika koklea mengalami kerusakan, maka yang terjadi selanjutnya adalah, koklea tidak bisa merespon pada gelombang suara, sehingga pendengaran pun akan mengalami masalah.

Biasanya, gangguan dengar yang terjadi karena meningitis akan terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Pada umumnya, setelah terpapar meningitis selama dua hari, fungsi pendengaran pun segera menurun.2 Jika dibiarkan tanpa terapi apapun, maka seluruh bagian koklea dapat mengeras dalam beberapa bulan. Seluruh jaringan lunak akan mengalami proses pengapuran, penulangan atau pengerasan. Proses pengerasan ini sudah mulai ditemui setelah 21 hari terpapar infeksi. 3Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa, sekitar 34% penderita meningitis, akan kehilangan fungsi pendengarannya, setelah bagian lunak di telinga mereka mengalami pengerasan. 4

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pada pendengaran yang normal, proses mendengar bisa terjadi karena sel-sel saraf di koklea mengirim sinyal suara, di sepanjang saraf pendengaran dan menghantarkannya ke otak. Jika meningitis ini telah menyebabkan gangguan pendengaran, maka sifatnya akan permanen. Hal ini disebabkan karena, jaringan lunak di dalam koklea yang mengeras, tidak mungkin dilunakan kembali, dari proses ini pun akan menyebabkan sel-sel syaraf menjadi mati.
Dalam kasus ini, alat bantu dengar pun pada umumnya tidak cukup kuat untuk membantu dalam memperbaiki atau membuat penggunanya bisa mendengar dengan lebih baik, dikarenakan kerusakan syaraf yang cukup berat akibat meningitis tersebut. Maka, yang bisa dilakukan adalah menggunakan implan rumah siput. 2

Implan rumah siput akan memproduksi ulang suara di telinga yang tidak bekerja dikarenakan beberapa alasan, salah satunya dikarenakan proses penulangan pada kasus meningitis. Pada kondisi pengerasan atau penulangan ini, sel-sel syaraf perlahan akan mati seiring waktu, terlebih jika mereka tidak menerima rangsangan signal elektrik, seperti yang dikirimkan oleh sel-sel rambut. Implan rumah siput diharapkan dapat mengatasi persoalan ini, karena ia dapat berperan dalam merangsang sel-sel syaraf, sehingga membuatnya tetap hidup dan mampu mengirimkan signal di sepanjang sel-sel syaraf. Cara kerjanya hampir menyerupai pendengaran yang normal.

Pada implan rumah siput, semua terjadi berkat adanya elektroda yang ditanamkan, yaitu silikon yang tipis dan fleksibel yang dimasukan ke dalam koklea. Susunan elektroda ini diposisikan sedemikian rupa pada koklea, sehingga setiap kali ia mengirimkan getaran listrik, maka getaran ini pun akan diteruskan ke sel-sel syaraf yang hidup untuk dilanjutkan ke otak. Dengan proses ini, proses mendengar pun menjadi lengkap.

Lalu, kapankah implan rumah siput ini bisa dipasangkan pada penderita meningitis, yang sudah menjalani terapi dan terlihat mengalami kemajuan pada kesehatannya? Jawabannya adalah secepat mungkin. Penggunaan implan rumah siput dapat dilakukan mulai dari usia 2 tahun. Semakin cepat seseorang menggunakannya, maka diharapkan hasilnya pun semakin baik.

MED-EL sendiri memiliki banyak variasi rangkaian elektroda. Bahkan, terdapat elektroda yang khusus untuk koklea yang mengeras, seperti pada kasus meningitis tersebut. Jika saat ini Anda sedang mempertimbangkan untuk menggunakan implan rumah siput, dengan berkonsultasi pada dokter bedah Anda, ia akan membantu Anda memilihkan elektroda yang tepat.

Nah, ini adalah beberapa cerita tentang seseorang yang menggunakan implan rumah siput, dikarenakan gangguan dengar akibat meningitis. Mereka menggunakan implan rumah siput MED-EL:

Chuckie Butler is a real-life Robocop
Robert Grey keeps on truckin’
Untuk mencari tahu lebih banyak tentang implan rumah siput MED-EL, silakan tonton video kami atau kunjungi www.medel.com:[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Referensi

  1. Fortnum, H.M. (1992). Hearing impairment after Bacterial meningitis: a review. Arch Dis Child, 67(9): 1128–1133.
  2. Van Loon, M.C., Hensen, E.F., de Foer, B., Smit, C.F., Witte, B., Merkus, P. (2013). Magnetic Resonance Imaging in the Evaluation of Patients With Sensorineural Hearing Loss Caused by Meningitis: Implications for Cochlear Implantation Otology & Neurotology, 34: 845–54
  3. Philippon, D., Bergeron, F., Ferron, P., Bussières, R.: (2009). Cochlear implantation in postmeningitic deafness. Otol Neurotol, 31:83–7.
  4. Durisin, M., Bartling, S., Arnoldner, C., Ende, M., Prokein, J., Lesinski-Schiedat, A., Lanfermann, H., Lenarz, T., Stöver, T. (2010). Cochlear osteoneogenesis after meningitis in cochlear implant patients: a retrospective analysis. Otol Neurotol, 31:1072–1078.

Comments

Artikel Rekomendasi