dalam TEKNOLOGI

Keoptimisan Peneliti Mengenai Manfaat Implan Rumah Siput pada Terapi ANSD

Pada awal-awal hasil penelitian, yang tercantum di banyak literatur, yang melibatkan pasien dengan ANSD dan menggunakan implan rumah siput, asumsi yang muncul adalah, bahwa implan rumah siput tidak akan memberikan banyak bantuan dan keberhasilan (Miyamoto, Kirk, Renshaw, & Hussain, 1999; Rance, bir, & Cone-Wesson, 1999). Dua orang pasien yang diikutsertakan dalam penelitian ini hanya menunjukkan peningkatan marjinal sedikit atau hampir tidak ada perbaikan sama sekali, jika dibandingkan dengan kinerja pendengaran sebelum menggunakan implan rumah siput.

Penelitian lain terus dijalankan, lalu diterbitkan lagi dua artikel yang menyatakan, bahwa mungkin saja beberapa pasien dengan ANSD dapat memperoleh manfaat dari implan koklea. Pada penelitian lanjutan ini, hanya ada satu pasien ANSD yang menggunakan implan yang disertakan. Hasilnya, memang terlihat adanya peningkatan aktivitas sinkronisasi di saraf pendengaran setelah menggunakan implan rumah siput (Fabry, 2000; TRAUTWEIN, Sininger, & Nelson, 2000). P

Mayo Klinik, di tahun 2001, mengajukan sebuah hasil penelitian lain, dimana mereka menggunakan 5 orang anak dengan ANSD yang menggunakan implan koklea sebagai partisipan. Dalam penelitian ini, terangkum hasil jangka pendek pada anak-anak ini, dimana adanya kesamaan hasil pada anak dengan gangguan dengar ANSD dan yang mengalami gangguan dengar sensorineural (sampan, Peterson, Facer, Fabry, & Driscoll, 2001). Dari situlah, penulis mulai mempertimbangkan agar implan rumah siput menjadi salah satu terapi ANSD.

Penelitian ini akhirnya diteruskan dengan tambahan partisipan, dimana pesertanya adalah 5 orang anak dengan ANSD yang telah menggunkan implan rumah siput dan 5 orang anak lainnya. Mereka semua diperbandingkan dengan 10 kontrol. Rangsangan yang diberikan kali ini diprogram, mulai dari ambang batas untuk mendeteksi suara-suara yang mana yang bisa diterima untuk ambang batas ANSD dan gangguan dengar sensorineural. Kontrol yang digunakan disini adalah gangguan dengar sensorineural. Dalam hasilnya, penulis melaporkan bahwa kedua kelompok, yaitu ANSD dan kelompok kontrol memperlihatkan hal yang hampir serupa. Dengan adanya penelitiap seperti ini, setidaknya dapat digunakan sebagai pertimbangan penggunaan implan rumah siput pada terapi ANSD.

Beberapa literatur bahkan telah mengklaim bahwa terapi ANSD dengan implan rumah siput menggambarkan kinerja yang sama dengan terapi implan rumah siput pada pengguna umum (Buss et al, 2002;. Madden, Rutter, Hilbert, Greinwald, & Choo, 2002;. Rodriguez Ballesteros et al, 2003), sayangnya penelitian yang dilakukan tahun 2002 ini hanya sedikit melampirkan hasil sehingga kurang terlalu detail. Gibson dan Sanli di tahun 2007, melakukan penelitian dengan melibatkan jumlah pasien ANSD yang cukup besar, yang juga menggunakan implan koklea sampai saat ini. Hasilnya dilaporkan bahwa, 75% dari 60 peserta memiliki skor persepsi yang sama dengan kontrol, yaitu orang dengan gangguan pendengaran sensorineural. Sedangkan Jeong, Kim, Kim, Bae, dan Kim di tahun 2007 berupaya membandingkan kinerja implan rumah siput pada 6 orang anak dengan ANSD, dibandingkan dengan kontrol nya yaitu, orang dengan gangguan pendengaran sensorineural. Hasilnya, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok tersebut.

Di tahun 2006, Zeng dan Liu melaporkan persepsi ujaran sebagai fungsi rasio signal-to-noise pada 5 orang pengguna implan rumah siput dengan ANSD, dan membandingkannya dengan 8 orang pengguna implan rumah siput dengan gangguan pendengaran sensorineural. Secara umum, 5 individu dengan ANSD mendapatkan hasil yang tidak lebih buruk atau pun lebih baik dibandingkan pengguna implan rumah siput tanpa ANSD.

(lanjut halaman 3)

Comments

Artikel Rekomendasi