dalam ARTIKEL TAMU

Membangun ekspektasi, kata-kata ini menjadi sering disebutkan oleh banyak orang tua yang memiliki anak dengan gangguan dengar, saat mereka memutuskan untuk menerapi anak mereka, baik dengan implan rumah siput atau pun alat bantu dengar. Ekspektasi ini adalah sebuah gambaran pengharapan atau pun pencapaian apa yang ingin mereka dapatkan, setelah menjalani terapi pendengaran tersebut.

Membangun ekspektasi pada orang tua dengan anak gangguan dengar, tidak hanya perkara menuliskan apa yang ingin didapatkan, tetapi juga perkara melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, sampai pada solusi jika harapan tidak sesuai kenyataan. Banyak orang tua membangun ekspektasi terhadap anak mereka, yang akan menggunakan implan rumah siput, dengan didasarkan pada pengguna implan rumah siput lain yang berhasil. Ketika ada anak lain yang sangat berhasil dengan implan rumah siputnya, maka ini akan dijadikan patokan mereka dalam membangun ekspektasi.
Apakah ini hal yang salah?

Dalam acara Hari Ulang Tahun RSCM, MED-EL sempat melakukan wawancara dengan dr. Harim Priyono., Sp-THT-KL. Ada banyak hal yang diperbincangkan terkait dengan perkembangan implan rumah siput di Indonesia, salah satunya tentang peran dokter dalam membantu orangtua membangun ekspektasi mereka secara realistis. Sejauh ini, banyak orang tua yang masih memerlukan bimbingan tentang bagaimana membangun ekspektasi pada anak-anak mereka, baik sebelum memutuskan menggunakan implan rumah siput, atau sesudahnya.

“Tidak ada yang salah dengan ekspektasi. Bahkan tim dokter tidak memiliki alasan untuk mematikan ekspektasi tersebut. Yang kami lakukan cukup mengedukasi, sehingga mereka bisa berpikir ulang, apakah akan melanjutkan ekspektasi yang telah ada, meningkatkannya, ataukah meredamnya jika diperlukan,” tutur dr. Harim Priyono di penghujung acara.

Nah, berikut dua point penting terkait cara membangun ekpektasi untuk orangtua pengguna implan rumah siput dan realita yang mungkin akan mereka temui.

Sebelum proses pemasangan implan rumah siput, bagaimana dokter menyikapi ekspektasi orang tua terhadap implan rumah siput tersebut?

Tidak bisa dipungkiri, memang salah satu permasalahan yang sering timbul setelah pemasangan implan rumah siput adalah, ketidaksesuaian antara ekspektasi yang dibangun di awal dengan pencapaian pengguna setelahnya. Umumnya, semakin besar “gap” nya, kekecewaan pun akan semakin tinggi. Kami dari tim dokter THT saat ini telah berupaya menjalin komunikasi yang intens dengan orang tua, tujuannya untuk mengedukasi orang tua sebelum mereka memutuskan untuk memberikan implan rumah siput pada anak-anak mereka.

Beberapa hal yang kami implementasikan di awal kepada mereka adalah, dengan mengedukasi mereka tentang masalah gangguan pendengaran itu sendiri. Kami memberitahukan pada mereka, bahwa masalah pendengaran bisa disebabkan karena adanya kerusakan baik di sebagian atau keseluruhan dari rumah siput. Artinya, kerusakan bisa terjadi di rumah siputnya, atau di jalur syaraf setelah rumah siput, atau keseluruhannya. Selain di rumah siput, terdapat juga masalah pendengaran yang masalahnya terdapat di jalur syaraf ke otak.

Nah, yang perlu dipahami adalah, implan rumah siput hanya berfungsi dalam menggantikan rumah siput itu sendiri. Padahal, untuk mendengar dengan sempurna, dibutuhkan rumah siput yang sehat, serabut syaraf di rumah siput yang sehat, serabut syaraf di batang otak yang sehat, sel-sel rambut di otak yang sehat, dan otak itu sendiri pun sehat. Untuk anak belajar berbahasa, lima hal ini harus sehat. Sedang implan rumah siput baru menggantikan peran satu organ saja, yaitu rumah siput itu sendiri. Istilahnya, implan rumah siput hanya membuka pintu anak untuk bisa mendengar.

Yang terjadi saat ini adalah, banyak orang tua berpikir bahwa, ketika anak mereka dipasangkan implan rumah siput, otomatis anak mereka pasti bisa mendengar.

Ada sebuah penelitian menyebutkan, seseorang baru bisa mendengar apabila stimulasi suara sampai pada bagian otak, yang disebut auditory cortex. Nah, jika stimulasi suara sudah bisa sampai ke bagian ini, maka penerima implan rumah siput pun bisa mendengar. Tapi, mendengar belum tentu bisa memaknai apa yang didengarkan. Untuk bisa memaknai apa yang didengarkan, dibutuhkan kerja otak yang lebih tinggi lagi. Misalnya, ketika seseorang yang tanpa gangguan dengar mendengar kata MED-EL, bagian otak ini bisa langsung memaknai apa itu MED-EL, sekalipun si penyebut menyebutkan kata MED-EL dengan tidak sempurna.

Nah, bagian otak yang terkait memori inilah yang kondisinya di luar kendali siapapun, diluar kendali alat, di luar kendali dokter yang memasangkan implan rumah siput, di luar kendali yang melakukan mapping dan yang melakukan terapi.

Mari kita mengambil kasus, kita anggap seorang pasien menerima implan rumah siput, dalam keadaan di mana rumah siputnya saja yang bermasalah, sedangkan syaraf-syaraf di sekitarnya dalam keadaan yang baik, maka bisa kita katakan, orang tersebut pasti akan mendengar suara dengan implan rumah siput. Tapi, bukan sekadar itu tujuan pemasangan implan rumah siput. Kita juga harus berbicara tentang, seperti apa suara yang mereka dengar, inilah yang kemudian menjadi pembahasan lanjutan dan harus disharing kepada orang tua, agar mereka dapat menyusun ulang lagi ekspektasi mereka.

Saya katakan menyusun ulang ekspektasi mereka, karena saya tidak mungkin meminta mereka menurunkan ekspektasi mereka, hal ini akan menimbulkan perang psikologis pada diri mereka nantinya. Saya sebagai seorang dokter tentu tidak boleh mematikan harapan mereka. Harapan itu harus tetap ada, tetapi kita membantu mengarahkan dengan melihat banyak kemungkinan-kemungkinan, sehingga nantinya mereka sendiri yang akan mengerem jika dirasa harapan mereka terlalu tinggi atau meningkatkan ekspektasi ketika anak mereka bisa melampaui apa yang mereka pikirkan.

Demikian menurut saya mengenai cara membangun ekspektasi ini, pendekatannya harus melibatkan edukasi mendalam sampai psikologis orang tua. Mereka harus kita rangkul sebelum membangun ekspektasi tersebut.

Tidak masalah memiliki role model yang memiliki kemajuan sangat pesat, ini baik untuk membangun ekspektasi dan memotivasi mereka. Tapi yang perlu mereka pahami adalah, setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan kondisi yang mungkin berbeda satu sama lain. Tentu kita semua berharap hasil yang terbaik untuk penerima implan rumah siput.

Bagaimana dokter bisa memperkirakan, apakah hasil yang bisa didapatkan pengguna implan rumah siput bisa mendekati ekspektasi orang tua?

Sayangnya belum ada satu alat pun yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah anak menggunakan implan rumah siput. Tentu menjadi lain ceritanya, misalnya saja ada alat yang bisa memberitahukan jika si X menggunakan implan, maka kemungkinan dia bisa berkomunikasi nantinya adalah 60% atau kemungkinan si Y akan bisa berbicara sampai 90% ke atas jika ia menggunakan implan rumah siput. Sayangnya, tidak ada alat tersebut.

Sejauh ini, kami para dokter baru bisa memprediksi bagaimana kemungkinan hasil dari penggunaan implan rumah siput, dari residual hearing atau sisa pendengaran mereka. Semakin bagus sisa pendengaran mereka, maka hasilnya pun akan lebih bagus. Tapi, ketika kami dihadapkan dengan sepuluh orang atau lebih pasien yang tidak memiliki residual hearing, dimana hasil ASSR mereka lebih buruk dari 100 dB, atau boleh dikatakan pasien tersebut artinya tidak memiliki sel rambut, ini yang menjadi tantangan kami dalam merumuskan ekspektasi.

Apakah ketika sel rambut tidak ada, otomatis serabut syarafnya pasti jelek? Jawabannya adalah, belum tentu.

“Implan rumah siput sebagai bagian dari ikhtiar untuk membangun ekspektasi agar anak bisa mendengar dan berkomunikasi lebih baik,”kata dokter Harim Priyono.

Pada beberapa pasien pengguna implan rumah siput yang tidak memiliki sel rambut, satu pasien bisa mendengar setelah 3 bulan, satu pasien setelah 6 bulan, satu pasien bahkan dalam sebulan sudah bisa mendengar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Contohnya, dari sekian banyak pasien dengan hasil ASSR 110 dB yang saya tangani, satu di antaranya bisa merasakan manfaat implan rumah siput dalam waktu satu bulan saja, dikarenakan sel-sel syaraf di belakang rumah siput masih sangat bagus sekali, termasuk yang menuju ke otak. Tapi, ada juga pasien saya yang baru bisa merasakan manfaat implan rumah siput setelah 1,5 tahun penggunaan, dan Alhamdulillah saat ini dia telah bersekolah di sekolah umum. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi.

Jadi intinya, tim dokter menganjurkan pasien untuk menggunakan implan rumah siput adalah sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk membangun ekspektasi mereka pada masa depan anak, tapi bukan untuk menjanjikan sesuatu pada mereka, karena janji-janji yang berlebihan justru yang bisa meningkatkan kekecewaan mereka, jika hasilnya di luar ekspektasi mereka. Karenanya yang terpenting adalah menuntun mereka, bukan membuat janji-janji untuk mereka. Perlu diingat, orang tua dengan anak gangguan dengar butuh bimbingan psikologi, sedangkan menjanjikan sesuatu tanpa menuntun mereka mengetahui lebih banyak hanya akan tambah melukai psikologis mereka.

Nah, sekarang apakah Ayah Bunda mendapatkan pencerahan tentang sejauh mana implan rumah siput ini akan membantu anak untuk bisa mendengar. Ada yang bisa mendapatkan manfaat sangat cepat, ada yang membutuhkan waktu. Semua tergantung pada banyak faktor, selain faktor fisik sendiri, juga stimulasi dan terapi akan mempengaruhi semuanya.

Di artikel sebelumnya, MED-EL dan dokter Harim Priyono juga telah membahas tentang kandidat pengguna implan rumah siput dan pertimbangan apa yang membuat seseorang sebaiknya langsung menggunakan implan rumah siput, tanpa perlu menggunakan alat banatu dengar terlebih dahulu.

Jika Anda ingin membaca artikel kami, silakan berlangganan blog MED-EL Indonesia, kami akan mengirimkan artikel kami langsung ke email Anda.

Comments

Artikel Rekomendasi