dalam KIAT DAN SARAN, Orang Tua

Semua orang tua dari anak-anak yang menggunakan implan rumah siput, pasti memiliki harapan agar kelak anaknya bisa mendengar dan berbicara, bahkan bisa berkomunikasi. Mereka berpikir, dengan bisa berkomunikasi, hal ini memungkinkan mereka untuk bisa bertukar pikiran, menyelesaikan konflik dan kesalahpahaman, juga mengemukakan ide-ide baru, dan saling memahami cara pandang orang yang berbeda-beda. Mereka juga perlu mengembangkan theory of Mind mereka.

Ketika anak-anak masih muda, sulit bagi mereka untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain – ya, karena isi pikiran seseorang memang tidak terlihat. Namun, seiring bertambahnya usia anak, kecerdasan sosial mereka pun akan meningkat, dan mereka akan mulai belajar bagaimana memprediksi isi pikiran orang lain. Konsep inilah yang disebut dengan Theory of Mind: kemampuan untuk menghubungkan kondisi mental — termasuk kepercayaan, tujuan, keinginan, pengetahuan, dll — baik untuk diri sendiri, dan orang lain, dan juga untuk memahami bahwa, orang lain juga memiliki pendapat, keinginan, niat, dan cara pandang yang berbeda dari apa yang kita miliki.

Anak-anak yang bisa mengembangkan theory of mind ini dengan baik, ia akan memahami bahwa orang lain bisa memiliki pendapat yang berbeda dari yang mereka miliki, dan hal itu tidak selalu benar atau salah. Misalnya, Chris berpikir bahwa Jason khawatir dengan hujan. Chris memiliki theori of mind tentang isi pikiran Jason, dan hal itu juga yang mungkin akan memengaruhi cara dia berinteraksi dengan Jason. Misalnya, ketika hujan, ia akan memilih untuk berbagi payung dengan Jason. Anak-anak mulai mengembangkan konsep Theory of Mind saat lahir, hal ini penting untuk mengembangkan rasa empati, memahami perspekstif, memahami aturan, dan mengembangkan keterampilan dalam beraksara, juga membangun persahabatan yang kuat.

Banyak anak-anak dengan gangguan dengar menunjukan bahwa kemampuan mereka dalam mengembangkan Theory of Mind ini tertunda, karena berbagai alasan.

  • Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menangkap sebuah percakapan, sehingga mereka memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mendengar dua orang yang sedang berbagi sudut pandang atas sesuatu, perasaan, dan pendapat mereka. Misalnya, seorang balita dengan pendengaran yang normal, mungkin bisa mendengar ibunya mengatakan kepada ayahnya betapa keadaan jalanan yang macet membuat ia letih sepulang bekerja. Seorang anak dengan gangguan pendengaran mungkin tidak mendengar percakapan ini, sehingga ia memiliki lebih sedikit kesempatan, untuk memahami bagaimana pikiran dan perasaan ibunya saat itu.
  • Anak-anak dengan gangguan pendengaran sering mengalami keterlambatan bahasa, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk memahami situasi sosial yang lebih kompleks. Mereka juga menjadi lebih sulit dalam memahami bahasa yang berhubungan dengan perasaan dan pikiran. Anak-anak ini juga seringkali sulit dalam memproses banyak informasi sekaligus di otak mereka.
  • Seringkali juga, orang tua yang memiliki anak dengan pendengaran normal memiliki perbedaan topik bahasan dengan orang tua yang anaknya mengalami gangguan dengar. Orang tua dengan anak gangguan dengar, lebih sering memasukan kosakata yang umum dan konkret seperti zebra, apel, teka-teki, dan mereka sering menghindari kata-kata yang abstrak (kata-kata tentang perasaan dan pikiran, seperti frustrasi, terkejut, kecewa) (Morgan & Meristo 2014). Hal ini terjadi dalam upaya untuk membuat anak lebih mudah mengakses setiap kata dan mudah memahaminya. Tetapi sayangnya, hal itu membatasi mereka untuk terpapar kata-kata yang berhubungan dengan mental, sehingga mempengaruhi kemampuan mereka untuk memahami bagaimana perasaan orang lain atau mengembangkan theory of mind.

Untungnya, ada banyak hal yang dapat Anda lakukan di rumah, untuk mengatasi kemungkinan adanya keterlambatan dalam pengembangan Theory of Mind pada anak.

  • Biarkan anak-anak mendengar pikiran Anda! Biarkan mereka mengekspos pikiran Anda, tunjukan pada mereka bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda. Anda bisa mengatakan:
    • Saya pikir saya meninggalkan kunci saya di konter, tetapi ternyata tidak ada. Dimana kunci itu, ya? saya khawatir akan terlambat jika kunci itu tidak ketemu.
    • Saya ingin burger dengan acar di atasnya, tetapi mereka tidak meletakan acar tersebut. Ini membuat saya kecewa. Apakah mereka kehabisan acar? Saya akan coba masuk kedalam dan bertanya pada mereka.
    • Kakakmu akan pulang sebentar lagi. Menurutmu dia mau main apa ya? Haruskah kita keluarkan mainan favoritnya?
  • Anda juga bisa menggunakan konsep “pengulangan elaboratif”, yaitu konsep di mana orang tua akan berbicara tentang peristiwa di masa lalu, yang terjadi pada anak mereka dengan menggunakan berbagai kata-kata mental. Berbicara tentang peristiwa masa lalu memungkinkan anak-anak untuk mengingat peristiwa tersebut dari perspektif orang lain, dan kemudian memberikan lebih banyak kesempatan untuk orang tua menggunakan kosakata abstrak saat menjelaskannya.
    • Ingat tidak, ketika kita pergi ke kebun binatang minggu lalu? Adik suka sekali melihat monyet, bahkan sampai adik tertawa terus. Kalo kakak suka kudanil, bukan monyet. Terus, adik juga takut sama harimau besar, ingat tidak? Mama bisa lihat adik ketakutan dan khawatir saat itu.
  • Anak-anak juga bisa menggunakan skema bermain pura-pura untuk membayangkan diri mereka berada di posisi orang lain. Ini akan memberi melatih mereka membangun keterampilan Teory of Mind mereka. Misalnya, seorang anak dan pengasuh bisa berpura-pura menjadi dokter, dan menaruh Band-Aid pada boneka beruang.
    • Ya ampun, kelihatannya beruang sedih karena dia telah mencakar lututnya. Saya adalah dokter dan saya akan membuatnya merasa lebih baik. Saya akan menaruh Band-Aid di lututnya lalu menciumnya.
  • Sertakan lebih banyak kosakata yang berhubungan dengan mental ke dalam buku-buku yang Anda baca. Misalnya, saat membaca cerita “Saya adalah Sam”, Anda bisa mengatakan,
    Sam tidak suka telur hijau. Saya pikir dia ingin makan yang lain. Apa saja makanan yang tidak kamu sukai? Apakah kamu pikir dia akan memakannya di rumah? Bagaimana dengan makan di atas kapal?

Suka dengan artikel ini? Jangan lupa untuk subscribe blog MED-EL Indonesia dan dapatkan informasi lainnya.

Comments

Artikel Rekomendasi